Masyarakat multikultural /IPS XI
I. PENGERTIAN MASYARAKAT MULTIKULTURAL
1. Furnivall
Masyarakat multikultural adalah suatu
masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri
tanpa ada pembauran satu sama lain di dalam suatu satu kesatuan politik.
2. Clifford
Gertz
Masyarakat
multikultural adalah merupakan masyarakat yang terbagi dalam sub-sub sistem
yang kurang lebih berdiri sendiri dan masing-masing sub sistem terkait oleh
ikatan-ikatan primordial.
3. Nasikun
Masyarakat
multikultural adalah suatu masyarakat bersifat majemuk sejauh masyarakat
tersebut secara setruktur memiliki sub-subkebudayaan yang bersifat deverseyang
ditandai oleh kurang berkembangnya sistem nilai yang disepakati oleh seluruh
anggota masyarakat dan juga sistem nilai dari satu-kesatuan sosial, serta
seringnya muncul konflik-konflik sosial.
Kesimpulan
Masyarakat
multikultural adalah suatu masyarakat yang teriri dari berbagai elemen, baik
itu suku, ras, dll yang hidup dalam suatu kelompok masyrakat yang memiliki satu
pemerintaha tetapi dalam masyarakat itu masig terdapat segmen- segmen yang
tidak bisa disatukan.
II. CIRI-CIRI MASYARAKAT MULTIKULTURAL
1.
Terjadi segmentasi,
yaitu masyarakat yang terbentuk oleh
bermacam-macam suku,ras,dll tapi masih memiliki pemisah. Yang biasanya pemisah
itu adalah suatu konsep yang di sebut primordial. Contohnya, di Jakarta terdiri
dari berbagai suku dan ras, baik itu suku dan ras dari daerah dalam negri
maupun luar negri, dalam kenyataannya mereka memiliki segmen berupa ikatan
primordial kedaerahaannya.
2.
Memilki struktur dalam lembaga yang non
komplementer,
maksudnya adalah dalam masyarakat
majemuk suatu lembaga akam mengalami kesulitan dalam menjalankan atau mengatur
masyarakatnya alias karena kurang lengkapnya persatuan tyang terpisah oleh
segmen-segmen tertentu.
3.
Konsesnsus rendah,
maksudnya adalah dalam kelembagaan
pastinya perlu adany asuatu kebijakan dan keputusan. Keputusan berdasarkan
kesepakatan bersama itulah yang dimaksud konsensus, berarti dalam suatu
masyarakat majemuk sulit sekali dalam penganbilan keputusan.
4.
Relatif potensi ada konflik,
dalam suatu masyarakat majemuk
pastinya terdiri dari berbagai macam suku adat dankebiasaan masing-masing.
Dalam teorinya semakin banyak perbedaan dalam suatu masyarakat, kemungkinan
akan terjadinya konflik itu sangatlah tinggi dan proses peng-integrasianya juga
susah
5.
Integrasi dapat tumbuh dengan paksaan,
seperti yang sudah saya jelaskan di
atas, bahwa dalam masyarakat multikultural itu susah sekali terjadi
pengintegrasian, maka jalan alternatifnya adalah dengan cara paksaan, walaupun
dengan cara seperti ini integrasi itu tidak bertahan lama.
6.
Adanya dominasi politik terhadap kelompok lain,
karena dalam masyarakat
multikultural terdapat segmen-segmen yang berakibat pada ingroup fiiling tinggi
maka bila suaru ras atau suku memiliki suatu kekuasaan atas masyarakat itu maka
dia akan mengedapankan kepentingan suku atau rasnya.
III. SEBAB TERJADINYA MULTIKULTURALISME
1. Factor
geografis,
faktor
ini sangat mempengarudi apa dan bagaimana kebiasaan sua tu masyarakat. Maka
dalam suatu daera yang memiliki kondisi geografis yang berbeda maka akan
terdapat perbedaan dalam masyarakat( multikultural).
2. Pengaruh
budaya asing,
mengapa
budaya asing menjadi penyebab terjadinya multikultural, karena masyarakat yang
sudah mengetahui budaya-budaya asing kemungkinan akan terpengaruh mind set
mereka dan menjadkan perbedaan antara
3. Kondisi
iklim yang berbeda,
maksudnya
hampir sama denga perbedaan letak geografis suatu daerah.
IV.
BENTUK
MASYARAKAT MULTIKULTURAL
1. INTERSEKSI
a.
Konsep
Interseksi merupakan suatu titik potong atau
pertemuan. Dalam sosiologi, interseksi dikenal sebagai suatu golongan etnik
yang majemuk.
b.
Definisi
Dalam Sosiologi, interseksi adalah persilangan
atau pertemuan keanggotaan suatu kelompok sosial dari berbagai seksi. Baik
berupa suku, agama, jenis kelamin, kelas sosial, dan lain-lain dalam suatu
masyarakat majemuk.
Suatu interseksi terbentuk
melalui interaksi sosial atau pergaulan yang intensif dari anggota-anggotanya
melalui sarana pergaulan dalam kebudayaan manusia, antara lain bahasa,
kesenian, sarana transportasi, pasar, sekolah. Dalam memanfaatkan sarana-sarana
interseksi sosial itu, anggota masyarakat dari latar belakang ras, agama, suku,
jenis kelamin, tingkat ekonomi, pendidikan, atau keturunan berbeda-beda dapat
bersama-sama menjadi anggota suatu kelompok sosial tertentu atau menjadi
penganut agama tertentu.
c.
Penjelasan definisi
Jadi, yang dimaksud dengan interseksi adalah
suatu masyarakat yang terdiri dari banyak suku,budaya,agama, dll yang berbaur
menjadi satu kesatuan di dalam komunitas tertentu.
2. KONSOLIDASI
a.
Konsep
Suatu proses penguatan pemikiran atas
kepercayaan yang telah diyakini agar kepercayaan akan sesuatu yang diyakini
semakin kuat. Yang mana hal ini dilakukan oleh orang yang lebih mengerti akan
kepercayaan yang dianut.
b.
Definisi
Konsolidasi adalah suatu proses penguatan yang
dilakukan untuk memberikan tambahan keimanan atas apa yang telah seseorang
yakini, yang biasanya dilakukan oleh orang yang sudah mencapai tingkatan
tertenatu.
c.
Penjelasan definisi
Jadi, yang dimaksud dengan konsolidasi adalah
suatu penguatan atas apa yang telah melekat pada dirinya.
3. PRIMORDIALISME
a.
Konsep
Primordialisme adalah sebuah pandangan atau
paham yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, baik mengenai
tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada di dalam
lingkungan pertamanya.
b.
Definisi
Primordialisme berasal dari kata bahasa latin
primus yang artinya pertama dan ordiri yang artinya tenunan atau ikatan.
Ikatan seseorang pada kelompok
yang pertama dengan segala nilai yang diperolehnya melalui sosialisasi akan
berperan dalam membentuk sikap primordial. Di satu sisi, sikap primordial
memiliki fungsi untuk melestarikan budaya kelompoknya. Namun, di sisi lain
sikap ini dapat membuat individu atau kelompok memiliki sikap etnosentrisme,
yaitu suatu sikap yang cenderung bersifat subyektif dalam memandang budaya orang
lain. Mereka akan selalu memandang budaya orang lain dari kacamata budayanya.
Hal ini terjadi karena nilai-nilai yang telah tersosialisasi sejak kecil sudah
menjadi nilai yang mendarah daging (internalized value) dan sangatlah susah
untuk berubah dan cenderung dipertahankan bila nilai itu sangat menguntungkan
bagi dirinya.
c.
Penjelasan definisi
Jadi, suatu primordialisme adalah suatu
kepercayaan yang sudah mendarah daging. Maka setiap orang yang memiliki
primordial pasti dia akan sulit menerima paham lain selain paham yang telah
mendarah daging dalam dirinya.
4. ETNOSENTRISME
a.
Konsep
Etnosentris sangat erat hubungannya dengan apa
yang disebut in group feeling (keikut sertaan dalam kelompok) tinggi. Biasanya
dalam suatu kelompok sosial sering kita melihat perang antar desa, perang antar
suku ataupun perang dalam agama dan sebagainya. Tapi entosentris lebih kepada
anggapan suatu kelompok sosial bahwa kelompoknyalah yang paling unggul.
b.
Definisi
Jadi, yang dimaksud dengan etnosentris adalah
suatu anggapan dari kelompok sosial bahwa kelompoknyalah yang paling unggul.
c.
Penjelasan definisi
Dari definisi di atas kita dapat memahami bahwa
dalam suatu masyarakat majemuk terdapat suatu kelompok yang beranggapan bahwa
kelompoknyalah yang paling unggul dari kelompok-kelompok sosial lain.
5. POLITIK
ALIRAN
a.
Konsep
Politik aliran adalah suatu kelompok masyarakat
yang tergabung dalam ormas-ormas yang memiliki suatu pemersatu berupa partai
politik dalam suatu negara, sehingga ormas tersebut dikatakan penganut partai
yang memang dijadikan pemersatu dalam negara.
b.
Definisi
Politik Aliran adalah suatu organisasi
masyarakat yang memiliki dekengan (jawa) untuk memelihara dan menyejahterakan
anggotanya. Contoh : Hahdhotul Ulama’ memiliki dekengan berupa Partai
Kebangkitan Bangsa(PKB), Muhammadiyyah memiliki dekengan berupa Partai Amanat
Nasional(PAN), dll.
c.
Penjelasan definisi
Jadi, jelas bahwa politik aliran adalah suatu
partai politik yang memiliki suatu dukungan dari suatu organisasi masyarakat
sebagai pembangun kekuatan dalam pemilihan umum.
V. KELOMPOK SOSIAL DALAM MASYARAKAT MULTI
KULTURAL
Pengertian
dan Macam-macam Kelompok
1.
Pengertian kelompok
Kelompok merupakan konsep yang
sangat umum dipakai dalam sosiologi dan antropologi. Sebenarnya kelompok
merupakan kumpulan manusia yang memiliki syarat-syarat tertentu, dengan kata
lain tidak semua pengumpulan manusia dapat disebut sebagai kelompok.
Robert Biersted menyebut adanya
tiga kriteria kelompok, yaitu: (1) ada atau tidaknya organisasi, (2) ada atau
tidaknya hubungan sosial di antara warga kelompok, dan (3) ada atau tidaknya
kesadaran jenis di antara orang-orang yang ada dalam kelompok dimaksud.
Berdasarkan analisis menggunakan tiga
kriteria tersebut dalam masyarakat dikenal beberapa jenis atau macam kelompok,
yaitu: (1) asosiasi, (2) kelompok sosial, (3) kelompok kemasyarakatan, dan (4) kelompok
statistik.
Keterangan:
A.
Asosiasi
Asosiasi merupakan kelompok yang memenuhi tiga
kriteria Biersted tersebut. Suatu asosiasi atau organisasi formal terdiri atas
orang-orang yang memiliki kesadaran akan kesamaan jenis, ada hubungan sosial di
antara warga kelompok dan organisasi.
B.
Kelompok sosial (Social Groups)
Kelompok yang para anggotanya memiliki kesadaran
akan kesamaan jenis serta hubungan sosial di antara warganya, tetapi tidak
mengenal organisasi, oleh Biersted disebut sebagai kelompok sosial.
C.
kelompok kemasyarakatan (Societal Groups)
Kelompok kemasyarakatan merupakan kelompok yang
berisi orang-orang yang memiliki kesadaran jenis saja, tidak ada hubungan
sosial di antara orang-orang tersebut maupun organisasi, disebut sebagai
kelompok kemasyarakatan (societal groups).
Misalnya kelompok laki-laki, kelompok perempuan.
Orang sadar sebagai “sesama laki-laki” atau “sesama perempuan”, namun tidak ada
organisasi ataupun komunikasi di antara mereka.
D.
Kelompok statistic
Bentuk terakhir dari kelompok adalah kategori
atau kelompok statistik, yaitu kelompok yang terdiri atas orang-orang yang
memiliki kesamaan jenis (misalnya jenis kelamin, umur, pekerjaan, dan
sebagainya), tetapi tidak memiliki satu pun dari tiga kriteria kelompok menurut
Biersted.
Sebenarnya kelompok statistik
bukanlah “kelompok”, sebab tidak memiliki tiga ciri tersebut. Kelompok
statistik hanyalah orang-orang yang memiliki kategori statistik sama, misalnya
kelompok umur (0-5 tahun, 6-10 tahun, dst.) yang dipakai dalam data penduduk
Biro Pusat Statistik. Dalam kelompok ini sama sekali tidak ada organisasi,
tidak ada hubungan antar-anggota, dan tidak ada kesadararan jenis.
1. Berbagai
macam kelompok/asosiasi dalam masyarakat
A.
In group-Out group
In group (kelompok dalam)
merupakan kelompok sosial di mana di antara anggota-anggotanya saling simpati
dan mempunyai perasaan dekat satu dengan lainnya. Misalnya: kliq.
Out group (kelompok luar) ialah
kelompok yang berada di luar suatu kelompok yang ditandai oleh adanya
antagonisme, prasangka atau antipati. Misalnya orang-orang kulit hitam di
lingkungan orang-orang kulit putih. Klasifikasi kelompok demikian dikemukakan
oleh W.G. Sumner (1940).
B.
Kelompok Primer dan sekunder
Klasifikasi ini dikemukakan
oleh C.H. Colley (1909). Kelompok primer dan sekunder dibedakan berdasarkan ada
tidaknya ciri saling mengenal atau kerjasama yang erat dan bersifat personal di
antara anggota-anggotanya. Kelompok dengan ciri demikian disebut kelompok
primer, dan yang tidak disebut kelompok sekunder.
C.
Gemainschaft dan Gesselschaft
Klasifikasi ini dikemukakan
oleh Ferdinand Tonnies (1967).
Gemainschaft (paguyuban) adalah suatu bentuk
kehidupan bersama yang anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang
murni, bersifat alamiah dan kekal. Hubungan antar-anggota kelompok paguyuban
memiliki ciri :
(1) intim,
(2) privat, dan
(3) eksklusif. Misalnya keluarga.
Menurut Tonnies, ada tiga tipe
gemainschaft, yaitu:
(1) gemainschaft by blood,
contohnya keluarga atau kelompok kekerabatan (klen),
(2) gemainschaft of place,
misalnya orang-orang se-RT/RW,
(3) gemainschaft of mind, yaitu paguyuban yang
terdiri atas orang-orang yang memiliki jiwa atau ideology yang sama, sehingga
meskipun bertempat kediaman yang saling berjauhan dan tidak memiliki kesamaan
keturunan/keluarga tetapi tetap memiliki hubungan yang erat, intim, kekal dan
dalam. Misalnya: kelompok keagamaan (umat), sekte, kelompok kebatinan, dan
sebagainya.
Sedangkan Gesselschaft (patembayan) adalah suatu
bentuk kehidupan bersama yang didasarkan pada ikatan lahir dan bersifat
kontraktual. Contohnya: Sebuah Perusaahaan atau organisasi buruh.
D.
Kelompok Formal dan Informal
Klasifikasi ini dikemukakan
oleh van Doorn dan Lammers (1964). Kelompok formal merupakan kelompok yang
mempunyai peraturan-peraturan yang tegas dan sengaja diciptakan. Di dalam
kelompok formal terdapat pembatasan yang tegas mengenai hak-hak, kewajiban,
wewenang, dan tanggung jawab anggota-anggota kelompok sesuai dengan statusnya masing-masing,
baik fungsional maupun struktural.
Kelompok informal merupakan
kelompok yang dibangun berdasarkan hubungan-hubungan yang bersifat personal dan
tidak ditentukan oleh aturan-atuan yang resmi.
E.
Kelompok organik dan mekanik
Klasifikasi ini dikemukakan
oleh Emmile Durkheim didasarkan pada ada tidaknya pembagian kerja dalam
kelompok. Di dalam kelompok organik terdapat pembagian kerja yang rinci dan
tegas di antara anggota-anggotanya, sedangkan pada kelompok mekanik tidak
terdapat pembagian kerja. Ada tidaknya pembagian kerja ini menimbulkan pula
sifat solidaritas antar-anggota yang berbeda. Pada kelompok organik terdapat
solidaritas organik, dan dalam kelompok mekanik terdapat solidaritas mekanik.
F.
Membership dan reference group
Klasifikasi ini dikemukakan
oleh Robert K. Merton. Membership Group merupakan kelompok dengan
anggota-anggota yang tercatat secara fisik sebagai anggota. Sedangkan reference
group merupakan kelompok acuan, maksudnya orang menjadikan kelompok yang
bersangkutan sebagai acuan bertindak dan berperilaku, walaupun secara fisik ia
tidak tercatat sebagai anggota.
G.
Kelompok-kelompok semu dan tidak teratur
1.
Kerumunan
Kerumunan ialah sekumpulan
orang yang tidak terorganisir dan bersifat sementara. Suatu kerumumnan dapat memiliki
pemimpin, tetapi tidak memiliki struktur dan pembagian kerja. Identitas
seseorang akan tenggelam apabila berada dalam sebuah kerumunan.
Tipe-tipe kerumunan :
-
Khalayak penonton (pendengar formal/formal
audience)
Kerumunan demikian mempunyai
perhatian dan tujuan yang sama, misalnya penonton bioskop, pengunjung khotbah
agama, dsb.
-
Kelompok ekspresif yang direncanakan (planned
expressive group)
Kerumunan yang terdiri atas
orang-orang yang mempunyai tujuan sama tetapi pusat perhatiannya berbeda-beda,
misalnya kerumunan orang-orang yang berpesta
-
Kumpulan orang yang kurang menyenangkan
(inconvinent aggregations)
Dalam kerumunan semacam ini
kehadiran orang lain merupakan halangan bagi seseorang dalam mencapai tujuan.
Misalnya: antre tiket, kerumunan penumpang bus, dst.
-
Kumpulan orang-orang yang panik (panic crowd)
Ialah kerumunan yang terdiri
atas orang-orang yang menghindari bencana/ancaman. Misalnya pengungsi
-
Kerumunan penonton (spectator crowd)
Yaitu kerumunan orang-orang
yang ingin melihat sesuatu atau peristiwa tertentu. Kerumunan semacam ini
hampir sama dengan formal audience, tetapi tidak terencana
-
Lawless crowd
Yaitu kerumunan orang-orang
yang berlawanan dengan hukum, misalnya: acting mobs, yakni kerumunan
orang-orang yang bermaksud mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan kekuatan
fisik. Contoh lain: immoral crowd, seperti formal audience, tetapi bersifat
menyimpang.
-
publik (massa)
Seringkali disebut dengan
khalayak umum atau khalayak ramai. Publik semacam dengan kelompok hanya tidak
menjadi kesatuan, hubungan sosial terjadi secara tidak langsung, melainkan
melalui alat-alat komunikasi massa, seperti: media massa cetak, elektronik, termasuk
pembicaraan berantai, desas-desus, dan sebagainya.
VI. Multikulturalisme dalam masyarakat multicultural
Multikulruralisme
pada dasarnya merupakan cara pandang yang mengakui dan menerima adanya
perbedaan-perbedaan cara berfikir, cara berperasaan, dan cara bertindak dalam
masyarakat yang bersumber dari adanya latar belakang sukubangsa, agama, ras,
atau aliran yang berbeda.
Multikulturalisme
lahir karena adanya kesadaran bahwa di masa lalu hubungan di antara warga
masyarakat dalam majemuk lebih conderung didasarkan pada primordialisme,
ethnosentrisme dan aliran. Sehingga di dalam masyarakat majemuk terdapat
potensi konflik di antara kelompok-kelompok atau golongan-golongan sosial yang
ada.
Hubungan
yang demikian menimbulkan masalah dalam proses integrasi sosial dalam
masyarakat majemuk. Lahirlah faham multikulturalisme yang lebih didasarkan pada
pandangan tentang relativisme kebudayaan. Bahwa pada dasarnya setiap kelompok
atau golongan sosial, baik itu sukubangsa, agama, ras, ataupun aliran memiliki
ukuran-ukuran dan nilai-nilainya sendiri tentang suatu hal, meskipun tidak
tertutup kemungkinan ditemukannya common platform atau kesamaan di antara
kelompok atau golongan-golongan yang saling berbeda itu.
VII. Manusia sebagai Tempat Antarhubungan Sosial
Dalam hubungannya dengan
penggolongan-penggolongan dan temapt manusia berinteraksi social, maka kelompok
masyarakat sangat beraneka ragam, diantaranya
1.
Kelompok primer dan sekunder
Kelompok primer adalah kelompok
yang ditandai ciri-ciri saling mengenal antara anggota-anggotanya serta kerja
sama erat dan bersudut pribadi. Sebagai salah satu hasil bersifat pribadi
adanya peleburan individu-individu dalam suatu kelompok, sehingga tujuan
individu menjadi tujuan kelompok. Adanya kebersamaan yang mempersatukan
sifat-sifat perseorangan dan dikomunikasikan dalam secara simpati dan empati,
secara sederhana dinyatakan dalam istilah,,kami “misalnya kelompok keluarga.
Kelompok sekunder adalah
kelompok yang anggotanya tidak saling mengenal antar hubungan langsung,
hubungan social yang tidak akrab atau hanya dengan hubungan rasional.
Gemeinschaft dan Gesellchaft
Gemeinscheft Adalah bentuk
kehidupan bersama,unsure pengikatnya berupa hubungan batin yang murni dan
bersifat alamiah. Faktor pengikatnya berupa rasa cinta dan kesatuan batin yang
bersifat kodrati. Dalam hal ini Tonnies membedakan menjadi 3 tipe yaitu:
-
Gemeinschaft by blood,merupakan ikatan yang
didasarkan pada ikatan darah atau keturunan, contoh keluarga, kelompok
kekerabatan.
-
Gemeinschaft of place, yaitu kelompok yang
terdiri dari orang-orang yang berdekatan tempat tinggal sehingga dapat saling
tolong-menolong, contoh Rukun Tetangga, Rukun Warga.
-
Gemeinschaft of mind, kelompok yang tidak
mempunyai hubungan darah atau tempat tinggal tidak berdekatan tetpi mempunyai
jiwa dan pikiran yang sama, karena ideologi yang sama.
-
Gesellscahft diartikan bentuk ikatan bersama
berupa ikatan lahir yang bersifat pokok dalam jangka waktu tretentu, didasarkan
pada adanya kebutuhan timbale balik seperti ikatan pedagang, serikat buruh dan
sebagainya. (Soerjono Soekanto,1982:86).
2.
Formal Group dan Informal Group
Formal group adalah suatu
kelompok sosial yang di dalamnya terdapat tata aturan yang tegas yang sengaja
dibut dalam rangka untuk mengatur antarhubungan antaranggotanya. Sedangkan
kelompok informal adalah kelompok sosial yang mempunyai struktur dan
organisasi.
3.
Community
Community adalah kelompok yang
memperhitungkan keanggotaannya berdasarkan hubungan anggotanya dengan
lingkungan setempat. Community yang merupakan kelompok teritorial terkecil yang
dapat menampung semua aspek kehidupan sosial memiliki aspek yang lengkap.
4.
Masyarakat Desa dan Masyarakat Kota
Perbedaan yang ada dalam masyarakat modern
adalah desa dan kota karena desa atau dusun selalu menerima pengaruh
kota.sementara itu masyarakat primitif adalah masyarakat yang berada sepenuhnya
bersifat pedesaan, dan masyarakat yang selalu merupakan masyarakat kekotaan.
Selanjutnya perbedaan antara desa dan kota adalah tidak tetap, Karena yang
dimaksud dengan desa itu takkan pernah memiliki sifat pedesaan secara terus
menerus dan orang merupakan produk dari berbagai jenis lingkungan khusus yng
berlatar belakang perkotaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar